Wisata di Sabang

Pulau Rubiah, Lokasi Karantina Haji Pertama di Indonesia, Wisata Sabang Tak Biasa

Bisa dikatakan wisata kini menjadi denyut nadi kehidupan Pulau Weh dan kota Sabang itu sendiri. Ada banyak penginapan di Sabang, kamu tinggal pilih saja. Mulai dari penginapan yang khusus backpaker yang biasanya banyak di Kota Bawah, Kota Sabang. Atau kamu ingin berleyeh-leyeh mewah di kawasan Iboih. Di sana, mulai dari Iboih Inn, sampai Pulau Weh Resort yang harganya bikin sesak kantong, tersedia.

Pulau Weh, Aceh. Siapa yang tak kenal pulau ini? Pulau lebih dikenal dengan sebutan Sabang ini telah diabadikan dalam judul lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” ciptaan R. Suharjo. Kini, lagu yang menjadi lagu nasional tersebut berhasil mengantarkan Sabang lebih dikenal dibandingkan nama Pulau weh itu sendiri.

Sabang memang dikenal dengan kekayaan biota Alam bawah lautnya yang beraneka ragam. Bahkan masih masuk dalam 5 besar destinasi wisata bawah laut populer di Indonesia.  Namun, tahukah kamu, jika ternyata di Sabang, masih menyimpan destinasi wisata lainnya?

Tidak hanya sebatas alam bawah lautnya yang sudah terkenal ke seluruh dunia. Tapi jauh sebelum itu, pada era kolonial, Sabang menjadi sebuah pulau yang menjadi incaran para petualang dari berbagai negara maju di Dunia kala itu. Sebut saja, Penjelajah terkenal dari negeri tirai bambu, china, Laksamana Cheng Ho pernah singgah di Sabang tahun 1413-1415. Atau, Ibnu Batutah yang berasal dari negeri Timur Tengah, pernah ke Sabang pada abad 14 sekitar tahun 1343. Dan, masih banyak deretan penjelajah terkenal lainnya yang pernah mampir ke pulau yang juga dikenal dengan sebutan Negeri seribu bunker.

Bahkan, dalam salah satu literatur sejarah, pulau ini sempat ditawarkan oleh Sultan Aceh terakhir untuk Amerika. Walaupun, akhirnya Amerika lebih memilih Singapura atau dulu yang dikenal dengan Temasek.

Pantai Iboih Sabang
Langit biru, laut yang hijau toska, dan masyarakat yang ramah, maka apa alasanmu tak ke sabang?

Jadi apa yang dimiliki oleh Sabang tak hanya sebatas alam bawah lautnya yang keren dan sejarah yang panjang. Akan tetapi sabang juga menjadi cikal bakal asrama haji di Indonesia. Yups, di Sabang inilah pertama kali ada pusat Karantina Haji. Di Indonesia, sebenarnya ada dua pusat Karantina Haji yang dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda. Pertama ada pulau Rubiah, Sabang- Aceh. Dan yang kedua ada di Pulau Onrust kepulauan Seribu- Jakarta.

Pulau Rubiah, sebenarnya hanya pulau kecil yang terletak persis di depan pantai Iboih. Tempat biasanya para wisatawan menikmati panorama bawah lautnya, semisal snorkeling ataupun freedive. Tapi tak satupun yang tahu jika dibalik pulau kecil tersebut masih tersimpan sebuah komplek bangunan yang dahulunya begitu megah dan mewah.

 

Jalur lama menuju pusat karantina di Pulau Rubiah
Jalur lama menuju pusat karantina di Pulau Rubiah

Jadi, jika kamu sedang wisata ke sabang, lalu berkesempatan menjelajah Pantai Iboih dan Tugu Nol Kilometer Indonesia, tidak ada salahnya kamu bermain ke balik pulau Rubiah. Untuk ke sini gampang banget kok. Dari Pantai Iboih, kamu pasti ditawari untuk snorkeling atau sekedar melihat terumbu karang di sekeliling pulau Rubiah. Nah, kesempatan inilah yang harus kamu manfaatkan sebaik mungkin.

Pulau Rubiah diseberang dapat ditempuh dari Pantai Iboih
Di seberang sanalahnya Pulau Rubiah, dekat kok, hanya 10 menit nyeberang dengan boat yang ada di Pantai Iboih ini

Dari dermaga Pulau Rubiah, berjalanlah ke arah belakang pulau. Di sanalah terletak komplek tersebut. Mulai dari bilik-bilik kamar yang bercat putih. Walaupun terlihat kumuh, namun kesan-kesan kemewahan bangunan ala kolonial Belanda masih terasa jelas. Beberapa daun pintu mulai dimakan rayap. Namun, kesan inilah yang akan membawamu ke era-era sebelum Indonesia merdeka.

Jika kamu sedikit jeli, di sepanjang jalan setapak, kamu akan menemukan rangkaian-rangkaian bekas bangunan dan sarana pendukung lainnya dari bangunan utama Karantina Haji di Pulau Rubiah ini. misalnya, bak penampung air yang besar banget. Sistem sanitasi, bekas asrama lainnya, dan beberapa sisa-sisa bangunan lainnya. Menariknya? Bangunan dan sistem sanitasi dari pusat karantina Haji tersebut memenuhi hampir satu pulau Rubiah tersebut. Bayangkan, betapa canggihnya para penjelajah dari negeri kincir angin ini.

­

 

Peninggalan asrama haji di Pulau Rubiah
Sisa sisa sistem sanitasi asrama haji pertama di Indonesia

By the way, pemerintah Belanda yang menguasai Aceh kala itu, membangun fasilitas pendukung haji ini dengan terpaksa.  Tak lebih karena alasan perpolitikan di daerah kekuasaannya yang mulai bergejolak. Salah satunya adalah karena pulau ini merupakan pulau terdepan dalam daerah jajahannya di nusantara,  maka Belanda harus menjaganya dengan ekstra ketat.

Ketika karantina haji belum ada dan pengurusan keberangkatan haji belum diatur oleh Belanda, masyarakat Aceh ramai pergi haji melalui para saudagar atau para hulubalang pemilik kapal-kapal besar. Dan biasanya, ketika mereka kembali ke tanah air, Semangat juangnya pun akan semakin besar dan turut mempengaruhi semangat juang masyarakat Aceh lainnya. Hal inilah yang mendorong belanda sampai harus repot-repot membangun fasilitas haji dan perusahaan travel haji pertama di Indonesia.

 

Bangunan Utama Karantina Haji di Pulau Rubiah
Bangunan Utama Karantina Haji di Pulau Rubiah

Nah, kawan, jika kamu berwisata ke Sabang, terutama bagi kamu yang memilih penginapan di pantai Iboih atau sekitarnya, akan rugi sekali rasanya jika tak sampai menjelajah pulau Rubiah dengan lebih seksama. Terutama bagi kamu para traveller yang tergila-gila dengan heritage dan history building, maka Pulau Rubiah adalah salah satu tujuanmu selanjutnya!

About the author

Menyukai dunia travelling, mencintai membaca, mencintai duduk bersama keluarga sembari menikmati secangkir kopi, menyenangi berbagi bersama. Ngeblog di HikayatBanda.com